Senin, 09 Januari 2012

Siklus Batuan

A. Proses pembentukan bebatuan yaitu berasal dari magma, dimana magma yang mendingin, kemudian mengeras baik melalui proses kristalisasi ataupun terbentuk sendiri yang dinamakan batuan beku. Berdasarkan bentuknya(pembentukannya), batuan beku dibedakan atas tiga jenis batuan yaitu sebagai berikut:
B1. Batuan Beku Dalam atau Plutonik
Batuan beku dalam terjadi dari pembekuan magma secara perlahan-lahan di dalam kulit bumi yang jauh dari permukaan bumi. Batu ini berwarna putih sampai abu-abu (kadang-kadang jingga) sehingga banyak digunakan untuk menghias taman atau bangunan. Contoh: batu granit.
B.2 Batuan Beku Korok atau Porfirik
Batuan Beku korok yang disebabkan adanya pendinginan cairan magma di sela-sela saluran magma. Pendinginan cairan magma itu menyebabkan terbentuknya batuan. Batuan seperti itu disebut batuan korok. Contoh: batu posfer dan diorit.
B.3 Batuan Beku Luar atau Lelehan/Epusif
Batuan beku luar terjadi dari pembekuan magma secara tiba-tiba di permukaan bumi. Batuan beku luar seperti ini disebut batu kaca atau obsidian. Ada juga batuan beku luar yang mengandung rongga-rongga yang berisi banyak gas. Batuan seperti ini disebut batu apung atau timbul. Contoh yang lain adalah batu basal. Batu basal terbentuk dari pendinginan magma yang gasnya telah menguap, terdiri atas kristal-kristal yang sangta kecil, berwarna hijau keabu-abuan, dan berlubang-lubang.
Selanjutnya sebuah batuan beku di suatu tempat yang sudah mengalami peristiwa perombakan (pelapukan) di permukaan bumi. Hasil pelapukan tersebut terdiri atas bermacam-macam ukurannya. Dan butiran hasil pelapukan ada yang menumpuk serta ada yang terangkut oleh angin dan air. Setelah mengendap cukup lama, butiran-butian tersebut menyatu dan terbentuklah batuan endapan. Berdasarakan proses pengendapannya, batuan sedimen dibedakan atas 4 jenis batuan yaitu sebagai berikut:
C.1 Batuan Sedimen Klastik
Yaitu batuan sedimen yang terbentuk berasal dari hancuran batu lain. Kemudian hancur berkeping-keping akibat pelapukan. Kepingan itupun diangkut air hujan, serta beguling-guling di lereng dan masuk ke sungai. Karena arus sungai membanting-banting batu itupun akhirnya menjadi kerikil, pasir serta lumpur yang mengendap di tempat baru sehingga mengalami diagenesa. Contoh: batu konglomerat, aglomerat, batu pasir.
C.2 Batuan Sedimen Organik
Batuan sedimen organik ini terjadi karena selama proses pengendapannya mendapat bantuan organisme, yaitu sisa, rumah atau bangkai binatang laut yang tertimbun di dasar laut seperti kerang, terumbu karang, tulang belulang, kotoran burung guano yang menggunung di Peru, lapisan humus di hutan dsb. Contoh: Aquatis, aeris, glasial, terestris, marine, fluvial dan limnis.
C.3 Batuan Sedimen Kimiawi
Umumnya tersusun atas garam-garaman yang ada dalam air laut. Contoh: batu gamping, batuan fosfat serta epavorit. Dan dalam proses kimianya yaitu seperti pelarutan, penguapan, oksidasi, dehidrasi dan sebagainya hasilnya dinamakan batuan sedimen kimiawi. Contohnya adalah hujan di gunung kapur.
Batuan Metamorf atau Malihan adalah hasil ubahan batuan beku dan batuan endapan akibat proses metamorfosis serta mengalami proses diagenesa. Ada tiga jenis batuan malihan, yaitu sebagai berikut.
D.1 Batuan Malihan  Dinamik
Yaitu pembentukan batuan yang disebabkan oleh penambahan tekanan tinggi, biasanya akibat gaya tektonik. Contoh: batubara dan batu sabak.
D.2 Batuan Malihan Termik
Batuan ini terbentuk karena adanya kenaikan suhu yang berarti. Contoh: batu pualam atau marmer.
D.3 Batuan Malihan Pneumatolitik
Pembentukan batu ini akibat adanya penambahan suhu yang disertai masuknya zat bagian magma ke dalam batuan itu (penelanan oleh magma). Contoh: azurit mineral (pembawa tembaga), topas, dan turmalin (batu permata).
Batuan metamorf akan kembali ke dalam magma dan ada yang berubah sendiri karena alam. Yang kembali dalam magma melebur menjadi magma, kemudian siklus kembali seperti semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar